Jumat, 30 Oktober 2020

Legenda si Biru Neon Turmalin Paraiba

Keindahan Turmalin dengan warna-warninya sudah sejak lama dikenal dunia . 

Namun ada satu varietasnya yang  baru ditemukan, tipe yang sangat langka dan digolongkan batu mulia, namanya Turmalin Paraiba.

Turmalin Paraiba
Turmalin Paraiba dengan biru neon yang vivid (mantap).

Kelangkaan batu ini dapat digambarkan seperti ini : dalam kurun waktu yang sama hanya 1 Turmalin Paraiba yang ditemukan untuk setiap penemuan 10.000 butir berlian. Wow, langka sekali, bukan?

Tidak seperti permata lain dalam divisi paling bergengsi di kerajaan permata ini, sebutlah Berlian, Ruby, Safir, atau Zamrud yang telah dikenal manusia sejak ratusan atau ribuan tahun lalu, batu mulia ini belum lama ditemukan dan diangkat ke permukaan bumi.

Beruntung anda singgah dan sempat membaca artikel ini, sehingga pantaslah anda menyandang predikat sebagai salah satu saksi hidup dari sebuah permata 'rookie' yang belum lama memulai debutnya dengan kehadiran yang begitu sensasional dan dalam waktu singkat berjaya memikat hati banyak orang.

Salah satu Turmalin Paraiba terbesar dan terindah yang pernah ada, berat 59.10 carat, milik salah satu artis top Hollywood. Harganya diperkirakan mencapai 5 - 10 juta USD.

Turmalin tipe ini ditemukan tahun 1989 dan memulai debutnya setahun kemudian di pameran permata Tucson, Amerika Serikat, dan sejak saat itu menjadi salah satu fokus perhatian dan incaran para kolektor atau penggemar permata.

Baiklah, mari kita telusuri batu biru kehijauan dengan cahaya neon bahkan ketika masih berupa rough ini, yang tidak akan berlebihan jika dikatakan belum pernah terlihat pada permata apapun sebelumnya, ditambah ekslusivitas, kualitasnya yang unik dan kisah penemuannya yang melegenda menjadikannya harta karun bagi para pemburu permata.

Paraiba Tourmaline
Rough Turmalin Paraiba. Photo Robert Weldon. Courtesy Brian Cook.

Turmalin Paraiba belum diketahui eksistensinya sampai awal tahun 90an. Meskipun masih spesies Turmalin ia memiliki properti khusus yang berbeda dengan Turmalin yang selama ini kita kenal, yaitu kandungan unsur tembaga/copper atau mangaan di dalam susunan kimianya. Intrusi tembaga dan mangaan dalam struktur kristalnya inilah yang menimbulkan semburat cahaya neon pada warna birunya yang vivid itu. Semakin tinggi kadarnya semakin tinggi efek saturasinya pada batu ini. Hal inilah yang membedakan dengan jenis Turmalin lainnya.

Kisah Penemuan Turmalin Paraiba
Adalah seorang pencari permata, Hector Dimas Barbosa plus para asistennya, yang karena keyakinan dan kerja keras mereka yang tak kenal lelah maka akhirnya batu ini ditemukan dan terangkat dari perut bumi.

Kisah itu bermula sekitar awal tahun 80an, ketika itu Hector merasa yakin ada sesuatu di dalam bukit-bukit kaya kandungan tembaga di São José da Batalha, Paraiba, Brasil itu. Ya, selain sepak bola negeri Samba ini memang dari dari dulu terkenal sebagai penghasil permata-permata indah di dunia, termasuk Turmalin.

Paraiba, Brasil.

Batu ini dicari dan sebenarnya sudah ditemukan sekitar tahun 1982 namun rough berkualitas permata baru didapat sekitar tahun 1989. 

Nah, kembali ke sekilas sejarah penemuan batu ini. Bertahun-tahun lamanya Hector menggali lubang demi lubang untuk menemukan apa yang dicarinya. Sampai sekitar tahun 1989 Turmalin biru neon ini akhirnya ditemukan. Sayangnya, karena sedang terbaring sakit, Hector tidak bisa hadir dalam pengangkatan pertamanya dari dalam tanah. Namun sudah tentu ia merasa bangga karena penemuannya segera saja menjadi bahan berita dimana-mana.

Kemudian sejak penampilan perdananya di pameran permata tahunan di Tucson pada tahun 1990, ia segera saja menjadi perhatian dan sensasi di kalangan pencinta permata. 

Sebagai  pendatang baru harganya termasuk fantastis, top quality-nya dihargai 3.000 USD/ct, masih dianggap terlalu mahal untuk sebuah Turmalin yang jika dihitung sekarang malah  kemurahan, karena Turmalin Paraiba terbaik harganya kini mencapai 16.000 USD/ct!

Sayangnya, dari penemuan awalnya itu, sampai lima tahun kemudian Turmalin Paraiba tak pernah didapatkan lagi di lokasi asalnya, batu ini tampaknya hanya ditemukan di bukit-bukit daerah itu saja, meski batu serupa ditemukan juga dalam jumlah sedikit di Rio Grande do Norte, kawasan yang berdekatan dengan Paraiba.

Paraiba dari Benua Lain
Sekitar tahun 2001 ditemukanlah batu serupa bahkan bisa dikatakan identik, meski bagi sebagian orang warna dan saturasinya tidak sebagus origin Paraiba, di lokasi yang jauh di seberang Lautan Atlantik, di benua Afrika sana, tepatnya di Nigeria.

Lalu tahun 2005 ditemukan juga di Mozambique dengan range warna lebih beragam, mulai dari hijau, biru-kehijauan atau biru-keunguan, sampai yang mirip dengan warna Paraiba Brasil. Hebatnya, Paraiba Mozambique ini seringkali lebih jernih dari Paraiba Brasil dengan ukuran yang juga lebih besar!

Turmalin Paraiba origin Mozambik seberat 1 carat.

Batu beda origin ini sama persis atau secara kimiawi identik, yaitu Turmalin dengan intrusi unik yang sama, tembaga dan mangaan, tapi mengapa batu yang identik ini bisa muncul di dua tempat berbeda yang begitu berjauhan jaraknya?

Hal ini bisa dijelaskan secara geologi yaitu dari pergerakan lempeng benua. Dahulu, jutaan tahun yang lalu, Benua Afrika dan Amerika masih bersatu, gerak tektonik menyebabkan lama-kelamaan benua ini terpisah sampai menjadi bentuknya yang sekarang. Jika anda perhatikan di peta dunia, nampak lekukan pesisir timur Amerika Selatan akan pas sekali jika disatukan dengan pesisir barat Afrika. Tempat ditemukannya Turmalin Paraiba di Brasil dan di Afrika dulunya merupakan satu daerah/daratan yang sama.

Pesisir Timur Amerika dan Barat Afrika 

Kemunculan Paraiba Afrika ini sempat menimbulkan perdebatan, mengingat susunan kimianya yang identik dan kualitasnya yang sebanding apakah layak menyandang gelar Turmalin Paraiba juga seperti saudaranya yang dari Brasil itu? Ada yang berpendapat bahwa 'paraiba' seharusnya merujuk pada origin batu ini, di luar itu tidak bisa diterapkan walau dengan kualitas yang dikatakan sama.

Sampai Februari tahun 2006, disepakatilah bahwa istilah 'Paraiba' dirujukkan pada sebuah jenis/tipe Turmalin dan bukan pada nama tempat. Beberapa bulan berikutnya hal ini disetujui oleh International Laboratory Manual Harmonization Committee. Sehingga, yang akan datang Turmalin dengan ciri atau properti yang sama dapat dinamakan paraiba meskipun didapat di daerah lain, di luar daerah-daerah yang telah disebut di atas.

Nah, itulah sekelumit kisah tentang Turmalin Paraiba. Rasanya tak akan habis-habisnya bercerita soal Turmalin. Batu ini punya begitu banyak warna dimana tiap warna punya nama dan keindahan tersendiri. 

Mau tahu lebih banyak tentang Turmalin, sila klik link di bawah ini.

Keajaiban Turmalin, Batu dengan Sejuta Warna 

Jumat, 03 April 2020

Permata Ungu nan Lembut Bernama Sugilite

Sugilite mineralnya pertama kali ditemukan di Iwagi Islet sebelah Barat Daya Jepang pada tahun 1944.


Sugilite dalam variasi bentuk dome/Kaboson
Dinamakan sesuai dengan nama penemunya, profesor Ken-Ichi Sugi, seorang petrologis dari Imperial University di Kyushu. Petrologi adalah ilmu yang mempelajari asal muasal, sejarah terjadinya, bentuk, komposisi kimia, dan klasifikasi batuan.

Meskipun ditemukan tahun1944 ia baru mendapatkan nama resminya pada tahun 1976, tak lama setelah ditemukannya spesimen yang sama di Afrika Selatan. Para penulis makalah mineral yang terdiri dari Nobuhide Murakami, Toshio Kato, Yasunari Miura dan Fumotoshi Harowatari memberikan nama ini untuk menghormati Ken-Ichi Sugi yang pertama kali menemukan dan mendeskripsikannya secara ilmiah.

Sugilite tergolong langka dan termasuk keluarga silikat dari tipe siklosilikat. Permata yang juga termasuk siklosilikat di antaranya Beryl, TurmalinBenitoite, juga Axinite. Silikat sehari-hari kita kenal sebagai quartz atau kuarsa, mineral yang jumlahnya termasuk melimpah di kerak bumi dan memiliki banyak polimorf (bentuk lain).

Tingkat kekerasan Sugilite 6 - 6,5 pada skala mohs, rumus kimianya KNa2(Fe, Mn, Al)2Li3Si12O30. Range warnanya ada dalam semua warna ungu, mulai dari ungu lilac, ungu buah plum, magenta, ungu kebiruan sampai ungu kemerahan.

Rough Sugilite biasanya ditemukan dalam satu bongkahan besar dan merupakan paduan atau kesatuan (agregat) dari kristal-kristal kecil. Di Jepang sendiri kristal yang ditemukan tidaklah menarik. Hanyalah bongkahan berwarna putih kekuningan atau putih kehijauan bercampur kristal-kristal colorless lainnya sehingga tidak cocok dijadikan batu permata atau ornamen.

Spesimen Sugilite origin Iwagi Islet, Jepang (kiri) dan Dara-I-Pioz, Tajikistan, Asia Tengah (kanan) 
Di tahun 1976 ditemukanlah spesimen Sugilite dengan berbagai range warna ungu di Wessel Mine, distrik Kuruman, North Cape, Afrika Selatan. Wessel Mine sendiri bukan tambang khusus permata melainkan pertambangan mangaan yang memulai operasinya di tahun 1973. Penemuannya pun terjadi secara tidak sengaja, yaitu ketika sedang melakukan pemboran untuk membuat lorong-lorong di bawah tanah.

Perbedaannya dengan yang ditemukan di Jepang terletak pada warnanya, sementara komposisi kimianya mereka identik. Warna ungu pada batu ini disebabkan oleh kandungan logam mangaan di dalamnya.

Sugilite 'gel' foto : Jpnwebworker, lisensi CC-BY-SA 4.0
Karena ditemukan di Wessel Mine kadang Sugilite Afsel ini disebut juga Wesselite, 'royal lavulite' atau 'royal lazel' jika warnanya cenderung ke lavender.

Ketika penemuan ini dipublikasikan tahun 1980 batu asal Afsel ini digambarkan memiliki luster (kilap) vitreous (soft/lembut seperti sutra) sedikit greasy/waxy yang artinya berminyak/berlilin seperti batu Pirus. Daging atau serat batu berupa butiran/granular dan kristalnya opaque/tidak tembus cahaya sampai translucent (semi transparan).

Jarang ditemukan Sugilite dengan warna yang merata. Permukaannya selalu dipenuhi alur atau urat-urat halus yang mempengaruhi kedalaman dan distribusi warna. Tidak heran karena batu ini adalah agregat/kumpulan kristal-kristal logam tunggal yang 'diikat' dalam mineral silikat, warna ungunya berasal unsur pengotor mangaan yang dikandungnya.

Varietas termahal dinamakan 'gel sugilite', warna ungunya gelap merata dengan kristal translucent. Tipe ini  harganya diperjual-belikan dalam hitungan carat. Material mentah Sugilite banyak didapatkan dalam dimensi yang cukup besar, sehingga di pasaran banyak tersedia Sugilite dengan berat lebih dari 10 carat.

Seperti banyak permata lainnya, kedalaman atau intensitas warna akan menentukan nilai batu permata ini. Semakin intens dan pekat ungunya semakin mahal harganya. Meski warna yang betul-betul merata jarang didapat namun selama ungu pekatnya masih dominan harganya tetap lebih mahal dari jenis yang banyak kontras antara ungu muda dan ungu tua.

Ya, awalnya Sugilite ditemukan sebagai bongkahan kristal tak menarik yang tumbuh di antara batuan. Orang mulai membicarakannya ketika ditemukan spesimen dalam jumlah besar dengan warna yang atraktif beberapa puluh tahun kemudian di Kalahari, Afrika Selatan.

Karena lusternya yang lembut dan kekerasannya yang moderat selain perhiasan batu ini juga dijadikan benda-benda ornamental, diukir menjadi patung misalnya atau dijadikan benda ornamen fungsional. Selain Jepang dan Afrika Selatan Sugilite ditemukan juga di India, Tajikistan, Italia, dan Canada.

Elemen ornamental dari Sugilite dan perhiasan emas swasa (rose gold) perpepaduan antara Sugilite, Berlian, Pirus dan induk mutiara.


Kisah batu menarik lainnya :




Senin, 09 April 2018

Informasi Seputar Rainbow Lattice

Mari kita berkenalan dengan Rainbow Lattice, permata unik dan langka dengan pola geometris dan warna-warni nan ilusif.


Rainbow Lattice
Rainbow Lattice - googleimage
Begitu uniknya pola batu ini, so unnatural atau seperti hasil rekayasa manufaktur alias kreasi manusia belaka. Bagai mineral dari planet lain alias seperti permata milik alien.

Permata dengan inklusi super unik adalah kombinasi yang langka antara Sunstone (Aventurine) dengan Moostone (Biduri Bulan), komposisinya terdiri dari 75% mineral ortoklas dan 25% albit.

Memang sangat unik, inklusinya tersusun seperti potongan-potongan atau anyaman warna-warni bagai pelangi yang terperangkap di dalam bongkahan resin.

Rainbow Lattice - foto by Rainbowlatticesunstone CC BY-CA 4.0
Tidak heran jika pertama kali melihat batu ini orang akan bilang "Hey, bagaimana cara membuatnya?" Padahal batu ini benar-benar hasil karya dari sebuah fenomena alam.

Bersama permata Feldspar lainnya, Rainbow Lattice seolah meneguhkan feldspar sebagai mineral penghasil permata dengan display dan special effect cahaya yang mengagumkan.

Sejarah Penemuan Rainbow Lattice
Permata ini ditemukan tahun 1985 di sebuah gurun terpencil di Australia tengah di Herts Range, timur laut Alice Springs oleh Darren Arthur dan Sonny Manson.

Ketika itu mereka sedang melakukan eksplorasi di sana dan tertegun dengan deposit yg belum pernah mereka temukan dan lihat sebelumnya.

Dunia belum mengenalnya, sampai hasil penelitian Gemological Institute of America (GIA) batu ini diidentifikasi dan dinyatakan sebagai permata jenis baru pada tahun 1989.

Bisa jadi inilah batu jenis paling baru terlangka dan paling indah yang pernah ditemukan. Lebih spesial lagi batu ini hanya terdapat di wilayah yang dulunya dirahasiakan di tanah jadi milik suku Aborigin itu.

Rainbow Lattice
Rough Rainbow Lattice
Darren Arthur adalah veteran di bidang perbatuan, ia seorang gemologis, pebisnis mineral dan ahli lapidary dengan pengalaman lebih dari 45 tahun.

Selain Rainbow Lattice Darren juga menemukan mineral permata yang cukup unik seperti Garnet Star, Prase Opal (Kalimaya Hijau neonn tanpa kembang) dan Evergreen Opal (Opal polos dengan hijau lebih gelap).

Informasi lengkap tentag Opal/Kalimaya silahkan klik di sini.

Deposit Rainbow Lattice ditambang tidak pernah menggunakan alat berat dan bahan peledak melainkan dengan menggunakan tangan dan peralatan sederhana seperti sekop atau cangkul.

Hasil galian kemudian dibersihkan dengan air dan disortir di bawah sinar matahari untuk memilih mineral yang mengandung inklusi hematit dan magnetit.

Rainbow Lattice
Rainbow Lattice dalam gosokan cabochon
Sebagai penghormatan atas lingkungan dan suku Aborigin di wilayah itu, para penambang mengupayakan area yang sudah ditambang dikembalikan ke kondisi naturalnya.

Spesimen dengan kejernihan dan inklusi yang clear/jelas termasuk sedikit ditemukan sehingga eksistensinya di dunia gemstone termasuk langka.

Rainbow Lattice dalam Mineralogi
Menurut penelitian pada tahun 1989, inklusinya merupakan kristalisasi dari zat penyusup, penyusup itu adalah ilmenite untuk yang berbentuk heksagonal dan segitiga berwarna hitam dan hematit untuk serpihan inklusi berwarna oranye.


Dengan kian berkembangnya iptek, penelitian terakhir menunjukkan bahwa inklusi hitam itu sebenarnya mineral Magnetit (Badar Besi mengandung magnit yang masih saudara Hematite).

Efek aventurensi atau "sunstone effect" pada permata ini ditimbulkan oleh inklusi hematit yang berbentuk heksagonal memanjang dan segitiga yang terletak pada satu bidang di dalam mineral.

Pada spesimen tertentu inklusi berwarna orange atau orange kemerahan ini membuat 'air batu' memancarkan cahaya kemerahan khas permata Sunstone.

Sementara inklusi magnetite (besi oksida) menciptakan efek kisi-kisi warna-warni. Inklusi ini tersebar saling silang pada satu bidang pada tingkat kedalaman yang berbeda-beda.

Inklusi magnetit ini seringkali terosksidasi dan mengalami perubahan fisik (alterasi) yang menimbulkan efek cahaya pelangi (iridensi). Magnetit yang tidak ter-alterasi tetap berwarna hitam seperti warna Badar Besi pada umumnya.

Berikut adalah jajaran permata feldspar dengan permainan cahayanya yang mengagumkan :

Cahaya Keemasan si Biduri Surya

Permata dengan Semburat Sinar Rembulan

Labradorite, si Permata Aurora

Permata menarik lainnya :

Ini Dia Batu Delima Langka dari Afrika

9 Berlian Termahal di Dunia

Keindahan dan Warna-warni Pietersite


Selasa, 20 Maret 2018

Informasi Seputar Agate Batu Sejuta Umat

Agate/Akik adalah salah satu varietas Kalsedoni keturunan Quartz mikrokristalin dengan jenis, warna, dan variasi pola yang hampir tak terhitung banyaknya.
Agate
Agate (background, photo by Lech Darski) - CC BY-SA 4.0
Istilah 'Agate' berasal dari nama Sungai Achetes di Sisilia tempat dimana batu ini banyak ditemukan. Dan memang, Agate atau Akik banyak diketemukan di sekitar daerah aliran sungai.

Terminologi Agate secara umum diterapkan bagi semua batu Kalsedoni dengan jalur atau garis berbentuk pita, namun banyak juga Agate yang tidak memiliki pola ini dengan jelas.

Agate seperti itu biasanya lebih translucent dengan inklusi berbentuk serabut, seperti cabang/ranting tumbuhan atau jalinan lumut. Nama khusus untuk tipe ini adalah Dendritic Agate dan Lumut/Moss Agate atau Lace Agate.

Warna-warni yang menawan dan keragaman coraknya membuat batu ini sangat unik dan tidak ada satu batu pun yang sama dengan batu lainnya.

Speciment
Koleksi berbagai spesimen Agate 1920-1950 - foto by Dsdugan C0
Derajat kekerasan permata turunan Quartz dengan formula kimia SiO2 ini berada di level 7 pada skala Mohs.

Batu ini sudah sangat lama dikenal manusia, mungkin termasuk permata yang pertama digunakan sejak masih era purbakala alias masa pra sejarah.

Ribuan tahun lalu bangsa-bangsa Sumeria, Mesir dan Yunani Kuno memanfaatkan Agate bukan saja sebagai perhiasan tapi juga dalam upacara-upacara ritual mereka.

Indonesia tentu saja tak ketinggalan, Agate atau Akik telah lama dikenal dan entah berapa ratus atau ribu jenis, tipe dan nama yang diberikan untuk batu yang tak pernah kehilangan penggemar ini.

Nama untuk Agate ini memang tergolong unik, hampir tidak ada ketentuan yang baku, nama-nama itu seringkali diberikan oleh si penjual, kolektor atau pemiliknya sendiri.

Kalsedoni, Quartz
Spesimen Dendritic Agate - origin Ken River, India. Foto by By 峠 武宏   CC BY-SA, 3.0 
Nama itu tergantung pula pada warna, pola, air batu, atau lokalitas batu itu ditemukan dan seringkali juga berdasar penilaian subyektif dari isi empunya batu.

Cukup membingungkan, bukan? Tapi begitulah nasib batu yang jumlahnya melimpah dengan varietas dan tipe yang juga seolah tak ada habis-habisnya.

Nama-nama Agate
Seperti disinggung di atas, nama-nama Agate boleh dibilang tak akan bisa dibilang hehe.. kita sendiri memiliki nama lokal yang banyak sekali untuk batu jenis ini.

Demikian pula di dunia internasional, meski jenis batunya cuma satu yaitu Agate atau Akik, tapi namanya ada ratusan atau bahkan ribuan. Akan sangat sulit untuk menghafalnya satu persatu.

Agate, Kalsedoni, Quartz
Agate origin Queesland Australia, foto by Lech Darski - CC SY-BA 4.0
Namun ada nama untuk tipe tertentu yang tampaknya berlaku umum sehingga digunakan cukup luas untuk tipe yang sama walau mungkin originnya berbeda, meskipun tetap saja standar penamaan itu tidak juga selalu jelas batas-batasnya.

Beberapa nama internasional Agate itu di antaranya: Onyx, Sardonyx, Moss Agate, Fire Agate, Carnelian, Blue Lace Agate, Fortification Agate, Iris Agate, Dendritic Agate, Sagenite Agate, dan banyak lagi.

Bagaimana Agate Terbentuk?
Ada beberapa teori mengenai genesa (keterjadian) batu ini, sekilas telah disinggung di blog ini dalam artikel tentang Quartz yang silakan anda klik linknya di sini.

Tapi baiklah mari kita sedikit kita ulang. Kejadiannya barangkali tidak sesederhana uraian di bawah ini, tapi inilah pendekatan yang paling bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah.

Spesimen Agate origin Argentine - foto wiki
Kebanyaan Agate terbentuk di area dengan aktivitas vulkanik dimana air yang kaya kandungan silika (SiO2) mengalir dalam retakan-retakan atau rongga-rongga yang terdapat dalam lapisan batu yang tercipta dari lava yang membeku (igneous rock).

Ketika silika koloid itu semakin tinggi kadar silikanya, agar-agar silika mulai terbentuk pada dinding rongga tersebut. 'Agar-agar' tersebut perlahan mengkristal membentuk lapisan kristal mikrokristalin.

Sedikit demi sedikit, lapis demi lapis permukaan kristal itu tertutupi lagi oleh gel silika yang masuk berikutnya yang kemudian juga terkristalisasi. Lama kelamaan lapisan kristal itu pun menebal.

agate
Fire Agate, sejenis Agate langka, origin Aguasculientes, Mexico - foto by Rob Lavinsky, iRock.com - CC-BY-SA-3.0
Konsentrasi silika pada cairan yang masuk tidak selalu sama, dimana hal tersebut memungkinkan masuknya zat lain  yang tercampur dalam larutan silika itu tadi.

Pencampuran itu menghasilkan perubahan warna, tidak heran jika ada gradasi warna atau terbentuk lapisan-lapisan warna yang tegas pada satu kristal tunggal.

Ketika zat asing itu ikut terkristalisasi dihasilkanlah Agate dengan rupa-rupa inklusi yang bisa berbentuk lembaran, ranting/cabang pohon atau seperti jalinan lumut.

Meskipun Agate biasanya terbentuk dalam batuan lava, batu ini bisa juga terbentuk pada batuan endapan (sedimentary rock) seperti limestone atau batu gamping/kapur.

Itu sebabnya mengapa kristal Agate seringkali ditemukan dalam bebatuan pejal atau batu gamping yang terdapat pada alur-alur lembah atau di area perbukitan.

Lalu mengapa banyak kristal Agate ditemukan disekitar daerah aliran sungai? Hulu-hulu sungai berada di sekitar pegunungan, dimana kristal batu ini dulunya terbentuk ketika gunung-gunung itu masih aktif.

Oleh berbagai peristiwa alam, pelapukan batuan, hujan lebat atau banjir, longsor dan serupa itu, maka kristal-kristal itu jauh terbawa arus sepanjang alur sungai tersebut.

Sejarah si Batu Akik
Sejarah batu Akik internasional barangkali tidak bisa dilepaskan dari sejarah pusat pengolahan batu di Idar-Oberstein, sebuah kota kecil di Jerman.

Kota kecil yang diapit pegunungan Hunsrück itu sejak lama terkenal sebagai sentra industri pengolahan Agate dan Jasper yang depositnya dihasilkan wilayah di sekitarnya.
Idar-Oberstei, Jerman foto CC BY-SA 3.0
Kerajinan yang sempat lesu karena bahan baku mulai menipis bergairah kembali ketika ditemukan deposit Agate dalam jumlah besar di Rio Grande do Sul, Brazil .

Deposit yang ditemukan pada tahun 1800an itu kemudian dikapalkan ke Idar-Oberstein untuk diolah di sana.

Tentu saja datangnya bahan baku mentahan tersebut disambut gembira oleh para pengrajin yang memang tradisinya sebagai perajin batu telah berbilang abad.

Dari pusat industri pengolahan Agate dan jasper, kini Idar-Oberstein menjadi salah satu pusat cutting dan polishing permata paling penting dan terkemuka di dunia.

Deposit Akik tersebar hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia yang tercatat menjadi salah satu sumber penting permata ini.

Beberapa tempat seperti Martapura di Kalimantan telah lama dikenal sebagai sentra pengolahan batu legendaris di negeri ini.

Kecuali varietas yang sangat unik dan langka secara umum permata ini harganya relatif tidak terlalu mahal, kekerasannya mumpuni dan perawatannya tidak rumit.

Kecantikan warna dan pola-polanya yang unik dan sangat beragam menyebabkan Agate disukai hampir semua kalangan mulai dari penggemar permata sampai kolektor, sehingga tidak salah jika dikatakan Agate adalah permatanya sejuta umat.

Kisah batu unik lainnya :

Ocean Jasper, Batu Unik dari Madagaskar

Kisah di Balik Pietersite alias si Batu Badai

Dan ini Kisah Batu 1001 Malam 

Keindahan Permata Sungai Dareh atau Idocrase

Senin, 19 Maret 2018

Mengenal Ocean Jasper dari Madagaskar

Ocean Jasper adalah nama dagang jasper multiwarna dari Madagaskar dengan corak/pola umum khas berbentuk lingkaran.

Madagaskar
Slab/lempengan rough Ocean Jasper 
Beberapa memiliki pola seperti pita atau ada juga yang diselaputi taburan Quartz jernih, yang biasanya disebut "druzy".

Meskipun biasanya disebut juga jasper orbikular (Jasper dengan inklusi berbentuk bulat atau lingkaran), riset terakhir mengatakan bahwa dia adalah mineral kalsedoni.

Anda tentu sudah mengetahui Kalsedoni merupakan salah satu turunan Quartz. Istilah Kalsedoni dulu diterapan pada semua permata turunan Quartz dalam kelompok mikro atau kriptokristalin.

Namun kemudian dipersempit untuk batu dengan air batu translucent dengan warna tunggal contohnya batu Lavender, Anggur Leci, Rafflesia dan Akik Pacitan.

Batu khas Madagaskar ini dikatakan lebih dekat ke Kalsedoni karena dia memiliki sifat translucent (meneruskan cahaya), Jasper adalah istilah untuk varian Kalsedoni opaque (tidak tembus cahaya), kecuali jika kita membelahnya dengan irisan yang sangat tipis.

Dari mana asal Ocean Jasper?
Sejauh ini Ocean Jasper hanya ditemukan di satu wilayah di dunia, yaitu di Barat Daya Madagaskar. Tepatnya di wilayah Analalava, region Sofia, Mahajanga, Madagaskar. Depositnya terdapat di dua lokal berbeda yang terpisah seitar 15 km.

Ocean Jasper
1. Pedesaan tepi laut Marovato yanng terkenal dengan corak lingkaran multiwarna, translucent dan Jasper druzy.

Marovato sendiri artinya "Banyak Batu" dalam bahasa Malagasi, 'vato' bisa jadi asal katanya 'batu' dari bahasa Melayu mengingat nenek moyang kita ada yang merantau dan beranak-pinak di sana sejak berabad-abad silam.

Lokasi penambangan Ocean Jasper dan salah satu sudut dusun Marovato, Madagaskar (foto: googleimage)
2. Di sekitar pedesaan Kabamby,  2,5 km lebih masuk ke daratan, terkenal dengan varietas Ocean Jasper hijau dan kuning yang warnanya cenderung merata, lebih opaque, dengan pola lingkaran banyak yang menyatu dan tampak lebih geometris.

Apakah perbedaan antara varietas Ocean Jasper
Ada empat lokasi berbeda yang menghasilkan permata ini di Marovato, masing-masing dengan ciri khasnya sendiri. Di lokasi-lokasi tambang itu ketika terjadi cuaca ekstrim seperti hujan lebat bahkan material Jasper kadang ditemukan di permukaan tanah.

Beberapa contoh Ocean Jasper dengan ciri khasnya (foto: googleimage)
1. Lokasi pertama ditambang dari tahun 1999 sampai 2006. Batunya cenderung berwarna hijau, pink dan putih, dengan pola bulat sempurna yang lebih sedikit. Panjang lokasi tambang sekitar 30 meter dengan lebar 7,5 meter.

2. Tambang kedua mulai dieksplorasi tahun 2005 sampai 2006. Range warnanya lebih luas, banyak ditemukan batu dengan warna dasar merah atau kuning, dengan pola lingkaran yang lebih jelas. Panjang jalur tambang itu sekitar 10 meter dan lebar 4,5 meter.

3. Area tambang ketiga ditemukan tahun 2013 namun segera kehabisan deposit enam bulan berikutnya. Depositnya cenderung pink, hijau dan putih, dengan corak bulatan yang bercampur antara yang bulat sempurna dan kurang jelas bulatannya. Luasan area ini sekitar 3 meter kali 2 meter saja.

4. Lokasi keempat ditemukan tahun 2014 namun hanya bertahan tiga bulan saja, letaknya lebih menjorok ke dalam, sekitar 500 dari lokasi pertama. Material yang dihasilkan pink, hijau dan putih, kadang terdapat Jasper kuning.

Kebanyakan depositnya kecil-kecil namun dengan corak lingkaran yang jelas, serupa dengan deposit di lokasi tambang kedua.

Sementara rough Ocean Jasper di Kabamby warnanya hijau tua dan kuning keemasan, kadang pink, merah dan putih (off white).

Tambang ini mulai beroperasi sejak tahun 2002 sampai sekarang dan materialnya ditemukan dekat ke permukaan tanah di lahan seluas hampir 35 km persegi.

Beberapa lokasi di Madagaskar juga menghasilkan batu yang diklaim serupa dengan Ocean Jasper, dikenal dengan nama Ocean Wave Jasper.

Warna-warninya serupa dengan Ocean jasper dengan corak bulatan tidak sebanyak jenis yang pertama namun lebih didominasi dengan garis-garis pita bergelombang, batu-batu ini ditambang sejak tahun 2002 sampai 2006.

Bagaimana Ocean jasper ditemukan?
Sejarah awal permata dengan pola unik ini masih misterius. Catatan tentang kalsedoni Madagaskar pertama kali diangkat oleh Alfred Lacroix dalam jurnalnya Minéralogie de Madagascar (Mineralogi Madagaskar).

Rough Ocean Jasper, foto Lionel Allorge
Jurnal itu diterbitkan tahun 1922. Namun material dengan pola/corak lingkaran seperti Ocean Jasper tidak tercantum dalam tulisan itu.

Dr Klaus Thalheim, seorang pakar mineral Jerman, pernah mendokumentasikan sebuah fragmen bebatuan milik Richard Baldauf yang kemungkinan adalah Ocean Jasper dari Kabamby.

Richard Baldauf adalah seorang koletor mineral asal Jerman yang hidup di sekitar awal abad 20. Batu itu dikatakan sebagai Augenjaspis dari Kabamby, 'Augenjaspis' berasal dari bahasa Jerman yang berarti 'Eye Jasper' atau jasper dengan pola bulatan seperti bola mata).

Pada tahun 1977 sebuah foto Ocean Jasper dari Kabamby disertakan dalam buku Encyclopédie des Minéraux (Ensklopedia Mineral) karya Grund dan disebut sebagai batu unik dari Kabamba.

Akan tetapi lokasi yang ducantumkan tidak tepat, karena Kabamba terletak jauh di tengah daratan Madagaskar, sedangkan Ocean Jasper ditemukan di daerah dekat pantai.

Pada pergantian milenium (1999) batu ini seolah ditemukan kembali oleh Paul Obeniche dan seperti kebanyakan para pemburu permata, awal penyelusuran mereka dimulai dari buku Ensiklopedia Mineral karya Grund di atas.

Paul mendapatkan contoh spesimen batuan tersebut dari beberapa orang yang mengatakan batu itu ditemukan di sepanjang pantai Barat Daya madagaskar.

Pemburu permata ini kemudian melakukan penelusuran di lapangan untuk melokalisir tempat itu. Ocean Jasper kemudian ditemukannya pada bulan Oktober 1999, di dekat pantai sekitar perkampungan Marovato.

Depositnya ternyata berbeda dari varietas kuning dan hijau seperti yang dibayangkannya, ternyata range warnanya lebih luas.

Sementara material origin Kabamby yang kuning dan hijau tadi ditemukan tidak jauh dari tempat itu, yaitu agak lebih ke dalam menjauh dari pantai.

Benarkah Berasal dari Laut ?
Karena ditemukan dekat pantai, banyak orang percaya batu ini berasal dari laut. Memang lokasi tambang pertama dan kedua di Marovato dekat dengan pantai, namun tambangnya sendiri berada di bawah tanah.

Permata bercorak unik ini pertamakali muncul di ajang Tucson gemstone show pada tahun 2000 dengan nama Ocean Jasper dan segera menarik minat para penggemar permata.

Nama yang sudah dipatenkan ini diberikan oleh Paul Obeniche dan Eugene Mueller yang membawannya ke ajang pameran batu itu.

Pola pada batu ini memang mengingatkan orang pada gelombang atau riak air laut. Dan memang lokasi pertama ditemukannya sangat dekat dengan pantai, dimana ketika laut sedang surut saja Jasper Madagaskar ini bisa ditambang.

Bagaimana dengan kita Indonesia ? Selain yang sudah dikenal banyak orang, sudah barang tentu masih banyak sekali mineral permata yang terpendam di dalam sana, menunggu untuk diangkat, diperkenalkan dan 'berbicara' di ajang permata internasional.

Batu menarik lainnya :

Ini Dia Kisah Batu 1001 Malam

Dan Ini Kisah Gemerlap si Hitam Sepanjang 1000 Abad

Jasper dan Warna-warninya yang Memikat

Mengenal Pietersite si Batu Badai 

Minggu, 18 Maret 2018

Mengenal Keindahan dan Warna-warni Pietersite

Pietersite termasuk batu langka yang didominasi warna biru atau abu gelap dengan corak unik ilusif yang ditingkahi warna keemasan dan merah nan menawan.


Pietersite (foto : googleimage)
Batu dengan pola corak seperti badai ini masih keturunan Quartz, berkerabat dengan Tiger's Eye dan Hawk' Eye. Luster-nya silky dengan chatoyansi di sekujur tubuhnya seperti pada kedua batu di atas.

Bedanya, schiller effect (katoyan) pada Tiger's atau Hawk's Eye bersifat linear paralel, lurus atau mengikuti jalur tertentu, maka pada Pietersite katoyansi-nya chaotic, random atau acak yang justru menambah keindahannya.

Pola warna pada batu ini akan mengingatkan orang pada badai yang terjadi pada atmosfir sebuah planet. Kontras biru dan warna keemasannya begitu ilusif, dramatis dan mengagumkan.

Sejarah Penemuan Pietersite
Pietersite belum lama dikenal dunia. Pertama kali ditemukan tahun 1962 di Namibia, Afrika Selatan, oleh Sidney 'Sid' Pieters, seorang tokoh perbatuan paling menonjol di Namibia,

Ia lahir dan dibesarkan di Namibia pada tanggal 8 Maret 1920 dan meninggal tahun 2003. Ayahnya pekerja tambang timah yang wilayah tambangnya berada di dataran Erongo dan ikut mendirikan beberapa perusahaan tambang penting di negara itu.
Contoh spesimen Pietersite Afrika, foto By R12347
Bijih timah diperoleh dari batuan pegmatit (batuan beku hasil dari pergerakan dan pembekuan cairan lava), dan batuan keras dengan tekstur kasar ini seringkali mengandung material permata.

Mineral seperti Beryl, Topaz, Turmalin, Safir, Rose Quartz dan banyak mineral lain termasuk rare material (unsur logam yang jarang  terdapat di alam) seperti Niobium, Iodium, dan Tantalalum seringkali terdapat dalam batuan ini.

Ketika menemukan Turmalin ia memutuskan mengekplorasinya secara komersial. Sejak itu ia pun memulai bisnis perbatuannya dengan membuka workshop  "The Usako Gemstore" di Usako pada tahun 1945

Selang dua dekade kemudian, tepatnya tahun 1963 Sid membuka workshop "House of Gems" di Windhoek, ibu kota negara itu.

Selain dari dua tambang miliknya di Karibib dan Usako, spesimen Turmalin yang diperdagangkannya berasal dari lokasi lain, seperti Spitzkop, Erongo, Onganja, Berg Aukas, Rossing, Arandis, Otavi, Brandberg, Tsumeb Mine dan Mile 72.

Lokasi terakhir berada dekat Swakopmund di mana di sana ditemukan Jeremejevite, permata langka yang harganya rruarr biasa itu.

Tidak kurang dari 60 tahun Sid menjadi dealer penting berbagai spesimen Turmalin indah yang dihasilkan Namibia.

Pietersite yang dibentuk sphere (bola)
Atas jasa dan konstribusi bagi mineralogi di negara itu, tahun 1998 namanya diabadikan bagi mineral timah hitam di Tsumeb Mine, tambang timah legendaris di Namibia, bijih Plumbum (timah hitam) itu dinamai sidpietersite.

Sejak tahu 1977 Sid Pieters tidak pernah absen mengikuti pameran permata  di Tucson, USA, yang setelah kepergiannya diteruskan oleh istrinya Val dan tiga putri mereka, Shelly, Maurine dan Gail.

Sementara "House of Gems", workshop-nya di ibukota Windhoek tetap beroperasi sampai sekarang di bawah kepemilikian Herbert Naegele.

Kisah Penemuan Pietersite
Nah, kembali ke permata yang akan kita bincangkan. Sid Pieters sedang men-survey sebuah lahan perkebunan di Namibia, ia menemukan batu kecil yang terbungkus limestone/batu gamping.

Karena tidak tahu batu apa di dalamnya, dibawanyalah rough itu ke workshop-nya di Windhoek, dan ketika dibelah tampaklah batu kebiruan dengan urat-urat keemasan bercampur merah di dalamnnya.

Pietersite dengan corak dan warna-warninya yang mengagumkan.
Sid kemudian membuka tambang batu ini di lahan tersebut, namun ekplorasinya tidak berlangsung lama karena terjadi pencurian sehingga akhirnya ia terpaksa meninggalkan area itu.

Namun dalam waktu itu, Sid Pieters telah meregistrasikan penemuannya di Inggris dan pada tahun 1964 mineral ini dipublikasikan sebagai Pietersite. Nama yang diambil sebagai penghormatan Sid kepada ayahnya.

Kerabat Dekat Tiger's Eye dan Hawk's Eye
Pietersite masih kerabat Tiger's Eye dengan properti fisik yang mirip. Namun Pietersite Namibia terbentuk pada kondisi geologis yang berbeda dengan Tiger's Eye.

Tiger's Eye Afrika diduga terbentuk dalam pengisian retakan-retakan pada lempeng benua yang terkait dengan aktifitas tektonik.

Sementara Pietersite, merupakan Tiger's Eye, Hawk's Eye, Jasper dan amfibol (mineral berbentuk serabut) yang disatukan dan terikat dalam kristal Kalsedoni.

Material-material permata di atas sebelumnya terbentuk dalam proses fragmentasi larutan kristal dolomit dan dalam fase berikutnya dolomit digantikan oleh silika.

Batu dengan derajat kekerasannya 5 pada skala Mohs ini depositnya hanya terdapat di dua tempat, yaitu Namibia dan  China, tepatnya di provinsi Hunan.

Pietersite origin China, foto By R12347
Pietersite China ditemukan sekitar tahun 1993 dan dunia internasional mengenalnya pada tahun 1997. Warna-warninya sedikit berbeda namun tak kalah indah dengan Pietersite Namibia.

Batu menarik lainnya :

Si Hijau Sungai Dareh atau Idocrase

Kisah Batu Seribu Satu Malam

Warna-warni Batu Delima Grossular

Ini Dia Indukya Batu Permata !


Kamis, 15 Maret 2018

Keindahan Permata Hijau Sungai Dareh atau Idocrase

Idocrase adalah batu yang termasuk langka dengan berbagai nuansa warna hijau yang indah, terdapat pula batu dengan bayangan warna kekuningan atau kebiruan. 


Idocrase jenis Californite yagng mirip Sungai Dareh, origin California, USA
Permata ini termasuk kelompok mineral silikat dalam tipenya sendiri. Dalam mineralogi kristalnya diidentifasikan sebagai kalsium-alumunium-silikat atau hydrogrossular garnet.

Kekerasannya berada di kisaran 6.5 sampai 7  pada skala Mohs yang termasuk ideal, tangguh dan awet untuk dijadikan permata.

Istilah 'idocrase' adalah sinonim atau persamaan dari 'vesuvianite'. Biasanya istilah 'idocrase' diterapkan pada batu yang sudah dijadikan permata, sementara 'vesuvianite' diterapkan untuk rough batu ini.

Kata 'vesuvianite' sendiri berasal dari nama gunung Vesuvius dimana permata ini konon pertama kali ditemukan dan diidentifikasi secara ilmiah.

Semenntara asal kata 'idocrase' adalah 'eidos' dan 'krausis', dua kata Yunani yang maknanya adalah 'bentuk' dan 'campuran', merujuk pada kristalnya yang seringkali menampakkan adanya percampuran dengan mineral lain yang biasanya dari jenis Grossular.

Idocrase pertamakali diidentifikasi dan dideskripsikan pada tahun 1795 oleh gemolog Jerman, Abraham Gottlob Werner. Werner juga yang pertamakali menemukan Krisoberil/Chrysoberyl, salah satu mineral penting yang menghasilkan batu permata legendaris seperti Cat's Eye dan Alexandrite.
Rough Idocrase, foto by Dave Dyet - Public Domain
Werner adalah mentor dari Friedrich Mohs yang menyusun derajat kekerasan mineral dalam Skala Mohs yang sampai sekarang masih digunakan di dunia batu permata.

Identifikasi Idocrase
Secara gemologi, Idocrase adalah campuran yang kompleks antara berbagai jenis logam, hidrogen dan floride yang diklasifikasikan sebagai kalsium alumunium silikat. Berat jenisnya antar 3.32 sampai 3.47, hampir sama dengan Tanzanite.

Indeks bias batu ini 1.700 - 1.723, sedikit di bawah Spinel dan Garnet (batu Delima). Kekerasannya 6.5 - 7 pada skala Mohs. Selain dalam bentuk kristal rough Idocrase seringkali ditemukan dalam bentuk bongkahan besar.

Rough Idocrase dalam bongkahan besar itu kadang sulit dibedakan dengan rough garnet Grossular atau bahkan Giok, terlebih warnanya pun mirip.

Karena susunan kristalnya berbeda maka Grossular lebih keras dari Idocrase dan Giok sendiri mineralnya adalah nephrit atau jadeit.

Genesa (Keterjadian) Idocrase
Kristal Idocrase terbentuk pada batuan hasil sampingan atau pada endapan limestone (batu gamping/kapur) dalam proses terbentuknya batuan metamorfik.

Proses itu melibatkan tekanan yang sangat tinggi dalam suhu yang ekstrim, misalnya ketika terjadi penyusupan magma di dalam perut bumi ke lapisan bebatuan di sekitarnya.

Deposit penting Idocrase terdapat di Quebec Canada dan Gunung Vesuvius, Italia, Pegunungan Ural, Rusia, Indonesia, China, Norwegia, Pakistan, Swedia, Swiss, Kenya, Tanzania dan USA (California, Arkansas, Maine, Vermont dan New Hampshire).

IdocraseTanzania dan Kenya yang relatif baru ditemukan terkenal dengan tingkat transparansinya yang tinggi, sehingga cocok digosok facet namun populasinya tergolong sedikit.

California menghasilkan Idocrase dengan nama pasar Californite yang cocok dijadikan abochon, batu ini kadang dengan keliru disebut Giok California, Giok Oregon atau Giok Arizona.

Idocrase asal California dari lokasi penambangan Happy Camp Jade California, nama lokalnya Californite.
Canada terkenal dengan Idocrase-nya yang super jernih dan varietas Idocrase yang sangat langka dengan warna warna ungu dan lilac (ungu muda).

Indonesia juga menghasilkan Idocrase, terkenal dengan nama dagang Sungai Dareh yang terdiri dari dua tipe. SD Pucuk Pisang (hijau kekuningan) dan SD Kumbang Jati (hijau dengan totol/bintik di dalam kristal). Seperti Californite, batu ini dinamakan Sungai Dareh karena depositnya terdapat di Sungai Dareh.

Idocrase Indonesia dikenal dengan nama Sunngai Dareh, foto di atas adalah varietas Kumbang Jati atau Totol Sayur (foto : dok pribadi beberapa koletor di Indonesia)
Warna khas Idocrase ada dalam range warna hijau,mulai dari hijau gelap, hijau kekuningan, sampai hijau zaitun. Mineral penyusup pada kristal Idocrase terkadang justru menambah keindahan permata ini. Ada juga yang berwarna kebiruan atau lilac, tapi varietas ini sangat langka.

Rough Idocrase kebanyakan opaque (tidak tembus cahaya) sehingga mirip dengan Giok. Varietas dengan kristal yang lebih jernih memang termasuk langka sehingga harganya lebih mahal.

Baik opaque atau translucent jika daging batunya bagus, tidak banyak retakan atau kapur, tetap cocok dijadikan permata.

Varietas Idocrase
Dari segi unsur kimia dan struktur kristalnya Idocrase tampaknya masuk dalam spesies tersendiri. Tidak ada batu lain yang secara mineral memiliki hubungan dengan Idocrase. Bandingkan antara Rubi dan Safir, misalnya, meskipun warnanya berbeda secara mineral mereka kembar identik.

Akan tetapi Idocrase memiliki beberapa tipe atau variates tertentu. Rough dalam ukuran besar yang mirip giok disebut Californite atau California Jade alias giok California. Biasanya deposit Californite daerah ini berasal dari Fresno, Siskiyo, dan Tulare.

Luster Californite opaque biasanya greasy (berminyak) sementara yang translucent mirip Sungai Dareh dengan luster mulai dari resionous (kilap resin) sampai vitreous (glassy). Selain California batu ini juga dihasilkan Pakistan dan Indonesia tentu saja.

Kebanyakan Californite ukuran besar rough-nya opaque (tidak tembus cahaya) dan mirip dengan Jade (Giok), tidak heran orang Amerika menyebutnya Giok California, Giok Oregon atau Giok Amerika. Idocrase daerah ini cocok digosok cabochon/dome.

Indonesia sendiri menghasilkan batu ini, nama lokalnya adalah Sungai Dareh dan sangat terkenal di kalangan penggemar batu, bahkan sempat booming dan harganya mencapai puluhan juta rupiah per butir untuk kualitas terbaik.

Batu Sungai Dareh sendiri sejarahnya sudah cukup panjang, konon permata ini telah ditemukan sejak tahun 1970an.

Dulu namanya Giok Kandis atau Lumut Kandis karena ditemuan di sekitar Batang Kandis atau Sungai Kandis, provinsi Sumatera Barat.

Varietas yang jernih dengan warna hijau Zamrud dikenal dengan nama Chrome Vesuvianite atau Chrome Idocrase. Daerah dengan deposit penting Chrome Vesuvianite terdapat di Italia dan Jeffrey Mine, Quebec, Canada.
Vesuvianite atau chrome idocrase, origin Italia dan Jeffrey Mine, Quebec. (foto by Rob Lavinsky)
Cyprine untuk Idocrase langka berwarna biru, dan Manganense Vesuvianite, untuk Idocrase ungu yang kemudian digolongkan dalam spesies tersendiri.

Sungai Dareh atau Idocrase yang populer di Amerika sebagai Californite atau Giok Oregon cocok dijadikan perhiasan apa saja. Liontin, mata cincin, beads/manik-manik untuk gelang, kalung atau asesories lainnya.

Perawatan batu ini tidak terlalu rumit, cukup dibersihkan dengan air sabun, bilas dan keringkan dengan kain lembut.

Seperti golongan silikat lainnya batu ini termasuk keras, namun untuk menjaga kilapnya simpanlah secara terpisah agar tidak tergores oleh batu atau mineral lain yang lebih keras.

Untuk pemakaian jangka lama kadang permukaannya tampak kusam karena goresan-goresan kecil yang terjadi tanpa kita sadar. Cukup digosok dengan serbuk intan yang banyak dijual di sentra-sentra penjualan batu.

Demikian sekilas cerita kita tentang Idocrase, ternyata sejarah batu ini cukup panjang sudah dikenal dan digemari secara internasional... sampai jumpa di kisah batu lainnya !

Batu menarik lainnya :

Pesona Batu Seribu Satu Malam

Ini Dia Delima Langka dari Afrika

Warna-warni Memikat Permata Jasper

Pesona Malasit yang Tak Pernah Pudar

Almandine, Delima Merah yang Menawan

Selasa, 13 Maret 2018

Lapis Lazuli si Biru Langit yang Bertabur Bintang

Permata ini akan mengingatkan orang pada indahnya langit malam Arabia, birunya dihiasi taburan mineral pirit keemasan yang berkilauan laksana kerlip bintang gemintang.

Lapis Lazuli
Rough Lapis Lazuli, lisensi : CC BY-SA 2.5
Permata biru bernuansa dalam ini mencapai sejarah yang gemilang di masa lalu. Ia pun termasuk dalam jajaran permata yang pertama kali di kenakan sebagai perhiasan dan diasah dalam kerajinan batu permata.

Kerap kali ditemukan sebagai ornamen dekoratif pada makam-makam kuno yang digali oleh para arkeolog, terutama di pusat-pusat kebudayaan masa lampau di sekitar Laut Tengah.

Hal tersebut merupakan indikasi yang jelas bahwa batu ini sudah dikenal ribuan tahun yang lalu di antara orang-orang Mesopotamia, Mesir, Sumerian (Irak), Persia (Iran), Yunani, Romawi, juga China dan India.

Artefak legendaris dari era Mesir Kuno menunjukkan status batu ini di masa para Fir'aun berkuasa. Ketika mereka mati jenazahnya ditutupi peti dari emas dan topeng emas yang berhiaskan Lapis Lazuli untuk ornamen penghiasnya. Seperti contoh di bawah ini.

Topeng penutup jasad turunan ke 18 dinasti Fir'aun yang mati muda, Tutankhamun (1332 - 1323 SM), terbuat dari emas dan hiasanLapis Lazuli (pada bagian alis dan lingkaran mata).
Sejarah yang tercatat tentang batu ini dimulai sejak milenium keempat sebelum masehi atau sekitar 6000 tahun lalu di sebuah kota legendaris bernama Ur di Eufrat (Syria sekarang).

Kota itu dulunya diramaikan oleh perdagangan Lapis Lazuli yang didatangkan dari tempat asalnya di dua sungai besar di Afghanistan.

Alexander Agung, sang penjarah agung dari Roma ketika mencoba menjarah India, terpesona dengan batu-batu biru yang ditemuinya dan membawanya ke daratan Eropa.

Orang-orang benua senja itu pun menjuluki Lapis Lazuli sebagai 'ultramarine', yang artinya kira-kira 'sesuatu yang berasal dari kedalaman samudra'.

Nama batu ini berasal dari kata Persia, 'lazhward' yang berarti langit atau biru, dan lapis (dari sini kata 'lapidary' berasal) yang berarti batu.

Lapis Lazuli
Spesimen Lapis Lazuli dan beberapa batu yang telah digosok.
So... Lapis Lazuli arti sederhananya adalah 'batu biru',namun bukan biru sembarang biru, melainkan biru yang luar biasa!

Secara kimia batu ini memiliki formula Na6Ca2[S,SO4,Cl2)2lAl6Si6O24] atau dibaca sodium kalsium alumina silikat. Range warna biru langit, keunguan sampai biru kehijauan. Derajat kekerasan 5 - 6 pada skala Mohs.

Di Indonesia batu ini dulu banyak di bawa oleh para jemaah yang pulang dari menunaikan haji di Arab Saudi. Sangat terkenal dan banyak yang menjadi penggemarnya.

Kita mengenalnya dengan  nama Akik Lapis atau Akik Lapis Lazuardi. Tapi di kalangan orang Jawa ada dua nama khusus bagi permata nan biru menawan ini, yaitu Akik Badar Nila dan Akik Badar Kencono.

Akik Badar Nila adalah Lapis Lazuli dengan urat atau bintik-bintik putih kemilau laksana perak, sementara Akik Badar Kencono adalah nama bagi Lapis Lazuli dengan titik-titik berwarna keemasan.

Deposit terbesar batu ini terdapat di daerah Sar-E-Sang di Timur Laut Afghanistan. Tersembunyi di areal yang bergunung-gunung terjal sehingga bebatuan gunug-gunung itu harus diledakkan dengan dinamit untuk mendapat Lapis Lazuli.

Lazurit, origin Sar e Sang Afghanistan
Ia terdapat juga di Rusia, tepatnya di sebelah barat Danau Baikal. Di pegunungan Andes Chili ditemukan juga Lapis Lazuli dengan guratan-guratan berwarna putih keabuan. Sejak tahun 1984 batu ini dijadikan permata nasional negara ini.

Dalam jumlah yang lebih sedikit batu ini ditemukan juga di Italia, Mongolia, Amerika Serika, Canada, Myanmar, dan Pakistan.

Meskipun terdapat di banyak tempat di dunia ini, namun Lapis Lazuli dengan kualitas yang benar-benar bagus termasuk sangat jarang ditemukan.

Harganya pun sangat bervariasi, mulai dari cukup mahal sampai ke sangat mahal, tergantung bagaimana kualitas batu itu, terlepas dari mana Lapis Lazuli ini berasal.

Selain sebagai permata Lapis Lazuli digunakan juga untuk seni ukir batu, mosaik dan panel pada bangunan-bangunan masjid, gereja dan istana, seperti pada Katedral Santo Isaac atau Catherine Palace, Tsarkoye Selo (Pushkin) 30 km selatan kota St Petersburg, Rusia.

Lyon Halls di Catherine Palace yang berhiaskan Lapis Lazuli pada perabotan, panel kayu, tempat lilin sampai bagian langit-langit. (foto: googleimage)
Orang-orang Mesir kuno menggunakan Lapis Lazuli untuk cap segel/stempel, ornamen dekoratif pada bangunan atau kuburan orang-orang penting mereka seperti contoh pada penutup wajah jasad Tutankhamun di atas dan sering juga mengukirnya menjadi vas bunga atau patung.

Sampai abad ke 19, unsur lazurit yang terkandung dalam  pada batu ini dijadikan pigmen biru untuk melukis pada kanvas, karena birunya sesuai dan tahan lama untuk warna langit atau laut.

Caranya dengan menggiling batu berkekerasan 5 sampai 6 pada skala Mohs ini sampai halus dan mencampurnya dengan minyak untuk dijadikan cat minyak.

Pigment natural ultramarine (foto : Public Domain)
Pigment biru dari bubuk natural Lapis Lazuli ini dimasa itu disebut juga sebagai ultramarine.

Lukisan JohanesVermeer, The Milk Maid (1658) yang menggunakan pigment ultramarine untuk warna birunya dan pigment pewarna alam lain yang tersedia di masa itu. (Public Domain)
Di era sekarang pun batu ini kerap dijadikan ornamen atau elemen dekoratif untuk berbagai keperluan. Seperti benda-benda dekoratif macam patung, vas bunga, lampu pojok, mosaik dinding, dan elemen estetik pada berbagai aksesoris.

Melihat penggunaannya, tak salah jika selain sebagai gemstone/batu permata, batu ini juga bisa disebut decorative stone.

Lapis Lazuli memang permata populer nan serbaguna dan  tangguh dalam pasang surutnya berbagai kecenderungan mode di ranah dunia jewelries.

Batu biru yang dihiasi taburan kerlap kerlip bak bintang ini begitu mempesona baik pria dan wanita sejak ribuan tahun lamanya dan masih tetap populer sampai sekarang.

Batu dengan sejarah panjang lainnya :

Menyingkap Rahasia Batu Permata Giok

Warna Warni Memikat Permata Jasper

Misteri Cintamani si Permata Antar Bintang

Gemerlap si Hitam Sepanjang 1000 Abad